Ortopedik & Traumatologi

RS Panti Rapih melayani penggantian sendi lutut dan pinggul, pelurusan tulang belakang, serta peyambungan tulang.

Urologi

Unit bedah urologi melayani tembak batu ginjal dengan ESWL dan penanganan batu ginjal dengan metode PCNL.

Kesehatan Ibu dan Anak

Pelayanan yang bertujuan untuk mengoptimalkan luaran ibu dan bayi dengan pengamatan kehamilan berkelanjutan untuk mencapai “Healthy Mother and Healthy Baby”

testing testing
Standar Baru Akreditasi Rumah Sakit (Bagian Kedua)

Catatan: Ini adalah tulisan sambungan dari tulisan pertama yang bisa anda baca di sini.

Setelah tulisan yang pertama, kita sudah mengetahui bahwa standar baru akreditasi rumah sakit tidak lagi berdasarkan unit kerja, namun saat ini berdasarkan proses. Ada dua standar proses, dan dua sasaran. Sebelum membahas masing-masing standar dan sasaran, akan dijelaskan dulu mengenai anatomi tiap-tiap standar dan sasaran.

 

Baik standar pelayanan berfokus pada pasien maupun standar manajemen rumah sakit dibagi menjadi beberapa bab. Masing-masing bab membahas satu topik secara khusus dan dilengkapi dengan sebuah gambaran umum dan uraian berbagai standar yang dilengkapi dengan maksud, tujuan, dan elemen penilaian. Elemen penilaian menjelaskan apa saja yang akan dilihat untuk menilai pencapaian rumah sakit terhadap suatu standar. Kelompok standar pelayanan berfokus pada pasien mempunyai 7 (tujuh) bab dengan 161 standar dan 436 elemen penilaian. Kelompok standar manajemen rumah sakit mempunyai 6 (enam) bab dengan 153 standar dengan 569 elemen penilaian.

Sasaran keselamatan pasien rumah sakit dan sasaran millennium development goals (MDGs) diatur agak berbeda dengan dua kelompok standar yang sebelumnya. Kelompok sasaran keselamatan pasien mempunyai enam sasaran dengan 24 elemen penilaian. Sementara itu, kelompok sasaran MDGs mempunyai tiga sasaran dengan 19 elemen penilaian.

Kelompok Standar Pelayanan Berfokus Pada Pasien dibagi menjadi enam bab seperti bisa dibaca pada tulisan sebelumnya. Bab pertama, yaitu mengenai akses ke pelayanan dan kontinuitas pelayanan (APK) bertujuan menyelaraskan kebutuhan pasien di bidang pelayanan kesehatan dengan pelayanan yang tersedia di rumah sakit. Ada beberapa standar yang disebut, yaitu admisi ke rumah sakit, kontinuitas pelayanan, pemulangan pasien, rujukan, dan tindak lanjut, transfer pasien, dan transportasi.

Bab kedua, mengenai hak pasien dan keluarga, menggarisbawahi peran serta keluarga yang sesuai dengan budaya setempat dapat meningkatkan hasil pelayanan pasien. Bab ini mengemukakan proses untuk mengidentifikasi, melindungi, dan meningkatkan hak pasien; memberitahu pasien mengenai hak mereka; melibatkan keluarga pasien dalam keputusan tindakan, informed consent, dan pendidikan staf tentang hak pasien.

Bab ketiga mengenai asesmen pasien menggambarkan mengenai tiga proses utama sebagai berikut: mengumpulkan informasi keadaan fisik, psikologis, sosial, dan riwayat kesehatan pasien; analisis informasi dan data pemeriksaan penunjang, dan membuat rencana pelayanan untuk memenuhi kebutuhan pasien. Bagian ini juga mengatur pelayanan yang diberikan oleh laboratorium dan pemeriksaan penunjang pencitraan.

Semua profesi kesehatan memberikan pelayaan kepada pasien. Hal ini ditegaskan dalam bab keempat, mengenai pelayanan pasien. Aktivitas pelayanan pasien ini meliputi: perencanaan dan pemberian pelayanan, pemantauan pasien, modifikasi pelayanan pasien bila perlu, penuntasan pelayanan, dan perencanaan tindak lanjut. Bab ini disusun secara paripurna dan telah mempertimbangkan pula pelayanan pada pasien terminal, pelayanan gizi, dan lain-lain.

Tindakan beresiko tinggi juga diatur dalam satu bab tersendiri, yaitu bab kelima mengenai pelayanan anestesi dan bedah. Pelayanan yang diatur di sini meliputi pemberian berbagai tingkatan sedasi, pelayanan anestesi, dan pelayanan bedah. Bab ini tidak hanya berlaku di kamar operasi, namun diharapkan juga diimplementasikan di unit gigi, klinik rawat jalan, pelayanan gawat darurat, pelayanan intensif, maupun pelayanan lainnya.

Dalam akreditasi model 16 pelayanan, dikenal kelompok kerja pelayanan farmasi. Di standar baru, hampir semua regulasi dan standar diatur dalam bab keenam ini, yaitu manajemen penggunaan obat. Salah satu bedanya adalah penyusunan standar baru yang lebih runtut, mulai dari manajemen organisasi, seleksi, pengadaan, penyimpanan, pemesanan dan pencatatan, persiapan dan penyaluran, administrasi obat, dan monitoring.

Bab terakhir, yaitu bab ketujuh membahas mengenai pendidikan pasien dan keluarga. Bab ini mengatur kolaborasi antar tenaga kesehatan dalam memberikan pendidikan kesehatan, pendidikan terkait kondisi kesehatan pasien, perawatan pasien di rumah, dan mendorong rumah sakit untuk membantu para stafnya supaya dapat memberikan pendidikan bagi pasien.

Kelompok standar manajemen rumah sakit dibagi menjadi enam bab. Manajemen rumah sakit “dipaksa” untuk mengutamakan pelayanan berbasis kepada keselamatan pasien atau patient safety. Ini nampak dari bab pertama yang langsung membahas mengenai peningkatan mutu dan keselamatan pasien. Walaupun ada sasaran keselamatan pasien yang harus dicapai, keberadaan bab ini lebih menekankan pada manajemen di tingkat rumah sakit.

Masih satu spektrum dengan keselamatan pasien, bab kedua adalah mengenai pencegahan dan pengendalian infeksi. Bab ini bertujuan mengidentifikasi dan menurunkan resiko infeksi yang didapat dan ditularkan di antara pasien, tenaga profesi kesehatan, tenaga kontrak, tenaga sukarela, mahasiswa kesehatan, dan pengunjung. Bab ini sedemikian mengatur sampai ke tingkat manajemen dan kepemimpinan tim pengendalian infeksi rumah sakit.

Bab ketiga diberi judul tata kelola, kepemimpinan, dan pengaturan. Bab ini percaya bahwa pelayanan prima bermula dari adanya sistem tata kelola yang baik dan  kepemimpinan yang efektif. Bab ini mengatur mengenai tata kelola, kepemimpinan rumah sakit, pengaturan, dan etika organisasi rumah sakit.

Tidak hanya bicara soal keselamatan pasien, kelompok standar ini juga meminta standar tertentu di bidang manajemen fasilitas dan keselamatan. Kepemimpinan efektif di bab ketiga dioperasionalkan di bab keempat ini dengan penekanan usaha pada mengurangi dan mengendalikan bahaya dan resiko, mencegah kecelakaan dan cidera, dan memelihara kondisi aman.

Bab kelima menggarisbawahi pentingnya kualifikasi dan pendidikan staf. Secara khusus pimpinan rumah sakit diingatkan untuk selalu mengetahui kebutuhan jumlah dan jenis staf yang diperlukan berdasarkan rekomendasi dari unit kerja dan unit-unit pelayanan. Rumah sakit juga diminta membuat sistem kredensial yang baik dan pendidikan berkelanjutan bagi para stafnya.

Bab terakhir pada kelompok ini adalah mengenai manajemen komunikasi dan informasi. Komunikasi yang diatur dalam bab ini meliputi komunikasi antar tenaga kesehatan, kepada pasien, dan kepada komunitas. Bab ini telah dirancang agar dapat mengikuti standar informasi berbasis kertas maupun berbasis elektronik.

Sasaran Keselamatan Pasien yang ada dalam standar baru akreditasi ini hanya enam, bukan sembilan. Kelompok sasaran ini menggarisbawahi mengenai ketepatan identitas, peningkatan komunikasi, keamanan obat, pembedahan yang aman, pengurangan resiko infeksi, dan pengurangan resiko pasien jatuh. Kelompok sasaran ini tidak mau generik. Semua diatur dalam standar yang cukup ketat, termasuk mengatur implementasi program sampai dengan pemantauan yang ketat. Sabun yang dipakai untuk cuci tangan sampai diukur untuk tujuan-tujuan tertentu.

Sasaran Millennium Development Goals juga hanya mengatur tiga sasaran MDGs. Sasaran tersebut adalah penurunan angka kematian bayi dan peningkatan kesehatan ibu, penurunan angka kesakitan HIV/AIDS, dan penurunan angka kesakitan tuberkulosis. Malaria sebenarnya juga masalah kesehatan yang perlu dikerjakan dan diperhatikan oleh rumah sakit namun tidak tercantum dalam sasaran.

Demikian uraian mengenai standar akreditasi rumah sakit yang baru. Standar ini akan mulai dipakai pada awal tahun 2012. Ada masa transisi 6 bulan pertama pada tahun 2012. Banyak orang skeptis bahwa standar baru ini akan dapat memperbaiki pelayanan kesehatan di Indonesia khususnya di rumah sakit. Namun begitu, standar ini memungkinkan kita sebagai praktisi rumah sakit untuk benar-benar mulai memikirkan perbaikan mutu pelayanan yang berbasis pada kebutuhan dan keselamatan pasien. Salam!

 

Ditulis oleh Robertus Arian D. (Hospitalist, tinggal di Yogyakarta)

 

Add comment


Security code
Refresh

Iklan
Iklan

Polling

Menurut Anda bagaimanakah pelayanan di RS Panti Rapih?
 
Iklan

Katering Gizi

Iklan
pembesar penis obat pembesar vimax toko vimax vimax vimax original obat pembesar pembesar penis pembesar payudara alat bantu alat bantu sex pembesar penis pembesar alat vital obat pembesar vimax vimax vimax asli obat kuat alat pembesar pembesar penis alat bantu alat bantu sex perangsang obat perangsang perangsang wanita pelangsing badan obat pelangsing obat pembesar pembesar penis vimax jual obat kuat obat peninggi peninggi badan obat pembesar pembesar penis obat pembesar penis

Rumah Sakit Panti Rapih, Rumah Sakit Yogyakarta, Rumah Sakit Jogja, Rumah Sakit Terbaik Yogyakarta, Rumah Sakit Unggulan Indonesia, Rumah Sakit Terbaik Indonesia, Peringkat Rumah Sakit Terbaik Yogyakarta, Peringkat Rumah Sakit Terbaik Indonesia, Rumah Sakit Panti Rapih, Sahabat Untuk Hidup Sehat, Bedah Urologi terbaik Indonesia, Bedah Urologi Terbaik Jawa, Bedah Urologi Terbaik Yogyakarta dan Jawa Tengah, Bedah Tulang Ortopedi terbaik Indonesia, Bedah Tulang Ortopedi Terbaik Jawa, Bedah Tulang Ortopedi Terbaik Yogyakarta dan Jawa Tengah, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik Yogyakarta, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik Indonesia, Rumah Sakit Murah, Rumah Sakit dengan Pelayanan Terbaik, Rumah Sakit Yogyakarta Pelayanan Terbaik, Rumah Sakit Keluarga, Rumah Sakit Tipe A, Rumah Sakit Terakreditasi A, Rumah Sakit Unggulan Masyarakat, Rumah Sakit Unggulan Masyarakat Indonesia, Rumah Sakit Unggulan Yogyakarta, Onder de Bogen