Ortopedik & Traumatologi

RS Panti Rapih melayani penggantian sendi lutut dan pinggul, pelurusan tulang belakang, serta peyambungan tulang.

Urologi

Unit bedah urologi melayani tembak batu ginjal dengan ESWL dan penanganan batu ginjal dengan metode PCNL.

Kesehatan Ibu dan Anak

Pelayanan yang bertujuan untuk mengoptimalkan luaran ibu dan bayi dengan pengamatan kehamilan berkelanjutan untuk mencapai “Healthy Mother and Healthy Baby”

testing testing
Terapi Gizi Medik

Pendahuluan

Terapi gizi medik (TGM) dahulunya dikenal dengan istilah terapi diet (dietary treatment). Diet sendiri berarti "pengaturan jumlah serta jenis makanan dan jadual makan setiap hari." Jika dirancang bersama pasien dengan bimbingan dietisien, terapi diet juga dapat dinamakan Perencanaan Menu atau Makan/PM (Menu Planning). PM ini mempertimbangkan pula faktor-faktor nonnutrisi seperti adat istiadat, habit, kultur, psikologi, dan ekonomi.

TGM

Istilah TGM digunakan karena terapi diet dapat pula disertai terapi gizi lain seperti suplementasi. Karena beberapa formula enteral misalnya formula susu diabetes (diabetasol, dianeral, nutren diabetes, glucerna) atau nutraceuticals misalnya kombinasi vitamin B, asam folat dgn zink dan kromium (diabetone, glucobion) atau fitokimia pangan misalnya antosianin/zeaxanthin serta bahan berkhasiat lain misalnya cinnulin sering digunakan sebagai suplemen lewat penulisan resep yang merupakan priviledge medis, maka digunakan istilah terapi gizi medik atau TGM.

Sejarah

Diet DM pertama kali diperkenalkan oleh dr Bouchardat pada tahun 1870an ketika beliau mengamati diabetisi yang makanannya dicatu akibat kelangkaan bahan pangan pasca-perang Perancis Prussian. Diabetisi yang makanannya dicatu ternyata memiliki kadar gula darah yang lebih rendah sehingga beliau menerapkan diet sebagai terapi untuk mengendalikan gula darah (ingat pada tahun itu, insulin dan OHO belum ditemukan).

Dibandingkan insulin yang baru diproduksi dan dipasarkan pada tahun 1921, kemudian OHO generasi pertama seperti tolbutamid dan klorpropamid yang baru diproduksi pada tahun 1955 serta biguanid seperti metformin yang dipasarkan pada tahun 1959, maka terapi diet jelas mempunyai sejarah yang jauh lebih lama.

Tujuan TGM

TGM bertujuan untuk mencapai dan mempertahankan:

1. Kadar GD mendekati normal (puasa/FPG 90-130, 2 jam pp < 180 dan A1c < 7)
2. TD yang normal (<130/80)
3. Profil lipid yang normal (LDL < 100, HDL > 40, TG < 150)
4. BB yang normal (IMT < 25)

Komponen TGM

TGM terdiri dari 2 komponen plus pengaturan jadual makan. Dahulunya komponen ini dikenal dgn sebutan 3 J: Jumlah makanan, Jenis makanan dan Jadual makan.

Komponen pertama yang berkaitan dgn jumlah makanan dikembangkan menjadi carbohydrate counting (carbing) atau penghitungan jumlah KH yg dibutuhkan dan distribusinya dalam 24 jam. Tentu saja untuk menghitung KH, kita harus menghitung jumlah kalori yang dibutuhkan per 24 jam dan persentasenya dalam bentuk KH. Menurut PERKENI 2009, persentase KH yg direkomendasikan adalah 45 - 65% dgn jumlah minimal 130 g/24 jam. Gula pasir diperbolehkan dalam sayuran/lauk dgn jumlah maksimal 5% dari Total Energy Intake.

Komponen kedua berhubungan dgn Jenis Makanan yang kemudian dikembangkan dengan memperhitungkan pula Indeks Glisemik (IG) dan Glycemic Load (GL) setiap makanan.

Mengapa harus TGM?

Penelitian terakhir seperti yg dilakukan F Cavalot et al pada tahun 2006 (J Clin Endocrinol Metab 2006;91:813-819) menunjukkan bahwa kenaikan GD 2 jam pp akan menaikkan hazard ratio serangan Jantung Koroner sebesar 2,5 x lipat (dari 2,12 menjadi 5,54). Kita ketahui bahwa kenaikan GD 2 jam PP berkaitan erat dengan IG, GL dan jumlah KH dalam makanan. Dengan kata lain, kematian karena serangan jantung koroner sangat dapat dicegah dgn diet yg dapat mengendalikan lonjakan GD (PG spikes) sesudah makan. PG spikes akan meningkatkan glikosilasi (A1c) yg menurunkan kemampuan sel darah merah untuk membawa oksigen dan melentur masuk ke dalam kapiler yang ukuran lumennya lebih kecil dari ukuran SDM.

Mengukur Unit Carbing

Sebelum mengukur unit Carbing, kita tentunya harus menghitung jumlah kalori yang dibutuhkan. Berikut ini langkah2 untuk menghitung kebutuhan kalori, KH dan unit Carbing:

1. Hitunglah dahulu kebutuhan basal (BEE) dgn mengalikan BB dgn 25 pada wanita dan dgn 30 pada pria jika BBnya normal (TB < /= 160 pada pria dan </= 150 pada wanita) atau ideal (TB > 160 cm pada pria dan >150 cm pada wanita). BB ideal = 90% (TB - 100); BB normal = TB - 100. Pada diabetisi yang berat badannya berlebih/kurang harus dikoreksi dengan memotong/menambahkan sebesar 20-30% (lihat No. 2).

2. Koreksi BEE dilakukan
Jika diabetisi tsb nonsedentari (bekerja fisik, berolahraga ringan).  Tambahkan hasil di atas dgn 10% pada diabetisi yang nonsedentari.

Pada usia di atas 40 tahun, kurangi 5% utk 40-59 thn, 10% utk 60-69 thn dan 20% utk > 70 thn.

Utk BB lebih atau obesitas, kurangi 20-30% dari hasil penghitungan BEE; untuk BB kurang, tambah 20-30% pada hasil penghitungan BEE.

3. Hasil terakhir dalam kcal diubah menjadi gram (1 g KH = 4 kcal), dan dari gram diubah menjadi unit carbing dgn membaginya dgn angka 15 (karena 1 unit = 15 g KH)

4. Jumlah unit carbing ini selanjutnya didistribusikan pada 3 kali makan utama dan 2-3 kali snack dgn interval waktu sekitar 3 jam.

Di dalam situs www.pantirapih.org dapat ditemukan pula langkah2 menghitung unit carbing.

5. Setelah mendistribusikannya ke dalam 3 makan pokok dan 2-3 camilan, anda harus melihat tabel utk mengetahui jumlah unit carbing pada tiap kelompok bahan pangan. (Ingat KH hanya terdapat dalam 4 kelompok bahan pangan yaitu (1) bahan pangan sumber energi [nasi, roti, mie, jagung, sereal, umbi2an], (2) protein nabati atau kacang-kacangan, (3) sayur-buah dan (4) susu dlm bentuk laktosa).

Protein hewani dan lemak/minyak tidak mengandung KH sehingga memiliki IG yang rendah atau bahkan 0 (lemak/minyak).

IG dan GL

Seberapa besar kenaikan kadar gula darah dalam waktu 3 jam (yg diukur saat puasa dan kemudian sesudah memakan suatu makanan setiap 1/2 jam sekali) menentukan besarnya IG. Sebagai pembanding dipakai glukosa yang ditetapkan memiliki IG 100.

Perkalian IG dgn jumlah KH dalam makanan tsb menghasilkan GL. GL diperlukan karena tidak semua KH atau monosakarida menaikkan GD dgn segera. Sebagai contoh fruktosa yang terdapat dalam corn sugar memerlukan waktu 3 jam untuk diubah menjadi glukosa di dalam hati. Jadi, fruktosa lebih mempertahankan kadar GD yang tinggi ketimbang menimbulkan PG spike. Karena itu, corn sugar yang pernah dipakai sebagai gula pengganti yang alami dgn IG yang rendah sekarang sudah tidak lagi mengingat GLnya yang tinggi.

Untuk penjelasan detail dan tabel IG, anda dapat melihat Majalah Intisari Menu Sehat terbitan bulan Mei Tahun tahun 2009 hal. 106 - 115 (fotokopi terlampir).

Penutup

Di samping TGM, pilar-pilar lain dalam menopang pengendalian FPG meliputi olahraga serta aktivitas fisik yg seimbang dengan istirahat, manajemen stres, monitoring gula darah dan pemakaian OHO/insulin. Semua ini berlandaskan pada pengetahuan diabetisi akan penyakit, komplikasi dan penanganannya lewat konseling perorangan pada klinik edukasi DM dan penyuluhan kelompok. Akhirnya kita harus berpedoman pada motto Joslin, "Diabetisi yang memiliki lebih banyak pengetahuan tentang DM dan penanganannya akan berusia lebih panjang dan memiliki kualitas hidup lebih baik." Untuk informasi tambahan, anda dapat membuka atau mensearch situs Joslin lewat Google. Situs dalam bahasa Indonesia yang cukup dikenal adalah www.SSdiabetes.org yang dikelola oleh Prof Sidartawan Sugondo SpPD-KEMD.

Yogyakarta, 26 Sept 2010

Dr Andry Hartono, SpGK

 
Iklan
Iklan

Polling

Menurut Anda bagaimanakah pelayanan di RS Panti Rapih?
 
Iklan

Katering Gizi

Iklan

Rumah Sakit Panti Rapih, Rumah Sakit Yogyakarta, Rumah Sakit Jogja, Rumah Sakit Terbaik Yogyakarta, Rumah Sakit Unggulan Indonesia, Rumah Sakit Terbaik Indonesia, Peringkat Rumah Sakit Terbaik Yogyakarta, Peringkat Rumah Sakit Terbaik Indonesia, Rumah Sakit Panti Rapih, Sahabat Untuk Hidup Sehat, Bedah Urologi terbaik Indonesia, Bedah Urologi Terbaik Jawa, Bedah Urologi Terbaik Yogyakarta dan Jawa Tengah, Bedah Tulang Ortopedi terbaik Indonesia, Bedah Tulang Ortopedi Terbaik Jawa, Bedah Tulang Ortopedi Terbaik Yogyakarta dan Jawa Tengah, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik Yogyakarta, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik Indonesia, Rumah Sakit Murah, Rumah Sakit dengan Pelayanan Terbaik, Rumah Sakit Yogyakarta Pelayanan Terbaik, Rumah Sakit Keluarga, Rumah Sakit Tipe A, Rumah Sakit Terakreditasi A, Rumah Sakit Unggulan Masyarakat, Rumah Sakit Unggulan Masyarakat Indonesia, Rumah Sakit Unggulan Yogyakarta, Onder de Bogen