Ortopedik & Traumatologi

RS Panti Rapih melayani penggantian sendi lutut dan pinggul, pelurusan tulang belakang, serta peyambungan tulang.

Urologi

Unit bedah urologi melayani tembak batu ginjal dengan ESWL dan penanganan batu ginjal dengan metode PCNL.

Kesehatan Ibu dan Anak

Pelayanan yang bertujuan untuk mengoptimalkan luaran ibu dan bayi dengan pengamatan kehamilan berkelanjutan untuk mencapai “Healthy Mother and Healthy Baby”

testing testing
Pasien Terbang

Setelah berobat di banyak rumah sakit dan memeriksakan diri ke banyak dokter, akhirnya Ibu Van, penderita kanker tenggorakan, sampai di rumah sakit di mana aku bekerja. Kondisinya sudah sangat parah. Dalam perkembangan, akhirnya Ibu Van dinyatakan tidak dapat disembuhkan lagi. Sungguh kasihan.

Pupus sudah harapan dari ibu muda itu untuk sembuh, setelah jerih lelah periksa dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Biaya yang harus dikeluarkan pun tentu sudah sangat besar. Satu-satunya harapan yang tersisa adalah secepatnya berada di tengah-tengah keluarga.

Karena kondisinya begitu parah, untuk mengantar kembali ke tengah-tengah keluarga Ibu Van membutuhkan pendampingan seorang perawat. Tugas perawat pendamping pasien selama perjalanan, bukanlah tugas yang ringan. Perawat yang dibutuhkan tidak hanya perawat yang cekatan, pandai mengoperasikan alat-alat kesehatan mutakhir, tetapi juga berwawasan luas dalam hal pendampingan pasien, sehingga bisa dan berani membuat keputusan bila terjadi sesuatu.

Saat makan siang, aku mengambil duduk di sebelah kepala bagian rawat inap. Begitu aku duduk, langsung ia membuka percakapan, "Mbak ... tolong ya antarkan pasien pulang ke NTT," pintanya sungguh-sungguh.

"Mbok cari yang lain, 'kan banyak perawat senior yang bisa," jawabku spontan.

"Wah ... sudah banyak yang saya mintai tolong, tetapi setelah melihat pasiennya langsung mundur."

"Apa pasien itu memang istimewa?" tanyaku.

"Ya ... Mbak, lihat saja dulu. Nanti segera kabari saya. Kalau Mbak mau, besuk pagi langsung berangkat."

"Saya tak perlu melihat pasiennya, kalau tak ada yang lain, saya sanggup dah!" kataku yakin.

Bagiku kesempatan itu adalah kesempatan emas. Kesempatan langka yang bisa menambah banyak pengalaman berharga. Setelah makan, aku langsung ke ruang di mana perlengkapan disiapkan. Aku ingin mengecek semua perleng-kapan perjalanan, mulai dari infus sampai ke kebutuhan harian. Aku tidak ingin menemui kesulitan hanya karena kurang teliti dalam persiapan.

Setelah mengecek perlengkapan aku diantar oleh seorang teman kepada Ibu Van di ruang isolasi. Temanku memperkenalkan aku kepada suami Ibu Van.

"Oh ... masih ada yang mau mengantar istri saya?!" katanya setengah tak percaya.

"Ada dong, Pak," kataku yakin.

Kami segera melangkah ke pintu, dan begitu pintu terbuka, serasa jantung ini berhenti. Aku kaget setengah mati. Tak terasa keringat dingin membasahi kedua telapak tangan dan kakiku. Berbagai perasaan campur aduk tak karuan ketika aku melihat Ibu Van. Ada perasaan mual yang begitu hebat. Aku berusaha sekuat tenaga agar tidak muntah. Seolah-olah aku berada di negeri dongeng, berjumpa dengan putri cantik yang telah disihir menjadi putri dengan wajah yang membuat ngeri dan takut. Kedua kelopak matanya seakan tak kuat menahan desakan kedua bola mata yang menonjol ke depan. Wajah sebelah kanan membengkak, membuat hidungnya bagai sebuah lubang kecil saja. Napasnya tersengal-sengal, kadang berhenti sebentar. Sungguh kasihan Ibu Van yang malang.

Sambil mencoba menyembunyikan perasaanku, Ibu Van kutanya secara pelan, "Ibu mau pulang?"

Perlahan wajah itu bergerak, dengan pandangan layu ia menjawab, "Anak-anak di Timor, dua." Air matanya turun perlahan.

"Besok kita pulang," aku menghiburnya. Ibu Van membalas dengan anggukan lemah.

Setelah itu aku kembali lagi ke ruang di mana aku harus mempersiapkan segala perlengkapan. Aku langsung duduk lemas. Mampukah aku, berhasilkah aku ... terbayang sebuah perjalanan panjang yang sangat melelahkan dengan pasien yang benar-benar istimewa. Bayangkan ... dua infus di lengan kanan dan kiri, slang oksigen tak boleh lepas, wajah rusak, pernapasan satu dua, nadi kecil, cepat, dan belum lagi kalau terjadi pendarahan hidung. Bagaimana nanti ... bagaimana kalau .... Akankah aku mundur. Dengan langkah gontai aku kembali ke tempat tugasku.

Ketika aku sampai di rumah, suami dan anak-anak protes begitu membaca surat tugasku. Masing-masing memberikan alasan tersendiri. Semua yang dikatakan benar. Aku hanya diam mendengarkan semua itu. Setelah semua selesai memberikan alasan, aku mencoba menerangkan tugasku itu kepada anak-anakku, tentu suami juga akan mendengarkan. Harapanku suami dan anak-anakku bisa menerima.

"Begini ya ... pasien itu seorang ibu muda. Umurnya 28 tahun. Ia punya dua anak yang masih kecil-kecil. Umurnya lima dan tiga tahun. Seandainya kamu menjadi anak dari ibu itu, coba bagaimana rasanya? Sakit nggak bisa sembuh, jauh dari rumah. Kepingin bertemu anaknya sebelum meninggal. Apakah Mama harus menolak tugas itu?" suasana menjadi hening.

Suasana hening itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara anak bungsuku, yang berumur tujuh tahun. "Apakah ibu itu bisa ketemu anaknya? Bagaimana kalau tidak bisa?" suaranya tertahan. Air mata menetes pelan menuruni pipinya.

"Oh ... kamu menangis to, Dik," aku mencoba menenangkan.

"Mama ... Mama antar saja, kasihan ibu itu. Kasihan juga anaknya. Biar mereka bisa bertemu. Mama boleh pergi," katanya di sela tangisnya.

"Ma, sekarang 'kan musim hujan. Cuaca sering tidak bersahabat," kata suami mengingatkan aku. Aku tahu kata- kata itu adalah ungkapan keberatan.

"Iya ya, tetapi bagamana lagi, ini tugas?" Suami tahu bahwa surat tugas itu tak mungkin lagi diubah.

Keesokan hari pukul tujuh, setelah menjemput Ibu Van di rumah sakit kami chek-in di bandara. Keberangkatan itu nyaris batal karena tidak ada surat izin terbang dari dokter perusahaan penerbangan, tak ada surat izin masuk landasan bagi ambulans yang mengangkut pasien. Waktu sangat mepet. Bagaimana dan ke mana aku harus mengurusnya. Setelah terbengong-bengong, aku menghampiri petugas piket landasan, mengemukakan masalah yang kuhadapi. Untunglah ia orangnya baik sekali. Dengan cepat ia membantu menyelesaikan surat izin masuk landasan. Sementara aku menyelesaikan pembayaran/administrasi dan belum selesai mengurus izin, aku diminta segera ke pesawat karena segera tinggal landas.
Untung saat itu suamiku ikut mengantar. Dia yang menyelesaikan urusan yang belum rampung. Teman perawat yang menemaniku mengantar ke bandara telah meneliti segala perlengkapan. Setelah semua dianggap baik, dilakukan serah terima pasien secara singkat. Temanku segera memberi ucapan selamat kepada keluarga dan Ibu Van. Pintu pesawat ditutup.

Perasaan lega, sebentar lagi pesawat mengangkasa. Lima menit berlalu .. sepuluh menit ... belum juga ada tanda-tanda pesawat akan berangkat. Ada masalah? Seorang pramugari cantik mendekat dan menyapa lembut, "Silakan Suster ke cockpit sebentar, pilot ingin bicara." Aku mengangguk dan segera melangkahkah kaki menuju cockpit. Aduh .. ada masalah apa, kata hatiku. Aku mencoba menenangkan diri

"Suster membawa surat keterangan dari dokter yang merawat atau dari dokter perusahaan penerbangan ini 'kan?" katanya mantap.

Aku diam terpaku. Apa yang harus kukatakan? Terlintas dalam ingatan sebuah surat tulisan tangan yang diserahkan saat check-in. "Sudah saya serahkan tadi saat check-in, Cap," aku menjawab dengan gagap.

"Apa yang dimaksud surat itu ini?" jawabnya sambil menunjukkan kertas kecil tulisan tangan dengan tanda tangan dokter yang merawat.

Aku mengangguk. Hatiku mulai gelisah. Rasanya aku dipelototi oleh semua penumpang pesawat

"Kalau ini, ini bukan surat izin terbang. Ini hanya keterangan bahwa pasien boleh duduk, titik. Kertasnya kecil, tulisan tangan lagi."
Aku diam mematung di pintu cockpit.

"Maaf Suster, saya harus mengatakan ini. Yang namanya surat izin terbang itu surat resmi, diketik, ditandatangani dokter perusahaan berdasarkan rekomendasi dokter yang merawat. Surat itu menjadi pegangan kami selama penerbangan. Dengan surat itu kami tahu seberapa bahayanya bagi seseorang yang sedang sakit untuk terbang dengan ketinggian tertentu, dalam perjalanan jauh. Itu sangat penting buat kami," katanya tegas dan keras. Aku tahu dia jengkel. Aku berusaha mendengarkan dengan baik, walau sebetulnya aku ingin mengatakan bahwa itu semua bukan kesalahanku.

"Bisa diterangkan, mengapa pasiennya boleh duduk, tidak tiduran saja?" suaranya keras mengagetkan aku.

Tak ada waktu untuk berpikir. Secara otomatis jawabanku meluncur, "Ibu ini menderita kanker di rongga belakang hidungnya. Penyakit ini melemahkan semua syaraf dan otot di sekitarnya, termasuk lidah. Dalam posisi berbaring atau tidur, karena lemahnya, lidah akan jatuh ke arah belakang. Ini akan menutup saluran napas, sehingga pasien tidak dapat bernapas, menjadi biru karena kekurangan oksigen, lalu dengan sendirinya akan meninggal."

"Oke Suster, kalau begitu bila terjadi sesuatu atas pasien Anda, perusahaan kami tidak bisa dituntut, karena kesalahan tidak terletak pada kami. Risiko yang terjadi pada pasien semua menjadi tanggung jawab Suster. Kami tidak ingin perusahaan penerbangan kami dituntut bila terjadi sesuatu yang bukan karena kesalahan penerbangan. Saya harap Suster mengerti itu," kata pilot tegas.

Aku mengangguk. Seluruh badanku rasanya panas. Tak ada kata-kata yang bisa mewakili perasaanku yang campur aduk. Kemudian pilot membisikkan sesuatu kepada seorang pramugari yang mengikuti pembicaraan kami. Sambil mempersilakan aku kembali ke tempat duduk, pramugari cantik itu mencoba menghiburku, "Suster, nanti kalau membutuhkan sesuatu, kami siap membantu. Mungkin kehabisan oksigen dalam penerbangan atau barangkali butuh kursi roda, atau yang lainnya. Silakan menghubungi kami." Suara yang sungguh lembut dan sungguh menjadi penghiburan. Di kala aku sungguh merasa kacau, Tuhan mengirimkan orang yang menyejukkan hati.

Bermacam-macam reaksi penumpang aku dengar dan rasakan. Ada yang menggerutu, mungkin juga ada yang mengumpat. Tetapi penumpang berkulit putih umumnya menunjukkan kesabaran dan pengertian. Tingkat kesadaran mereka mungkin memang jauh lebih tinggi.

Suami Ibu Van ternyata juga sangat gelisah. Kutenangkan dia dengan memberi tahu bahwa segalanya telah beres.

"Suster tadi dimarahi oleh pilot?" tanyanya.

"Bukan marah, Pak. Pilot wajib tahu keadaan penumpang, apalagi yang keadaannya seperti Ibu Van," kataku menjelaskan.

Penerbangan sampai Denpasar tidak mengalami kesulitan yang berarti. Ketika transit di Denpasar selama satu jam, kehadiran Ibu Van mengundang perhatian banyak orang. Berbagai reaksi diperlihatkan, berbagai pertanyaan dilontarkan. Ada yang simpati, tetapi ada juga yang mencemooh dan sinis. Ada yang menutup hidung saat lewat di samping Ibu Van. Aku berdiri di muka Bu Van, untuk mengurangi perhatian dari orang-orang. Usahaku ini rasa-rasanya tidak begitu bermanfaat. Kemudian, dengan hati galau aku menemui petugas ruang transit, mohon ruangan tersendiri, agar lepas dari pandangan penumpang lain. Dengan senang hati kami dipersilakan memakai kamar tamu yang dekat dengan landasan. Di ruangan itu kami bisa beristirahat tanpa gangguan.

Perjalanan Denpasar - Kupang mulus. Meski di Maumere harus transit, tetapi Ibu Van tidak perlu meninggalkan pesawat. Pukul 16.00 waktu setempat, kami meninggalkan Maumere. Cuaca di situ cerah. Kulihat Ibu Van sejak tadi sangat tenang. Infus dan oksigen berjalan baik. Tidak ada tanda- tanda yang mengkhawatirkan. Setelah beberapa waktu, kulihat dari jendela cuaca mulai mendung dan sudah mulai gerimis. Ada rasa kecut di hati setiap kali terbang dalam cuaca hujan, tetapi aku mencoba menghibur diri.

Ibu Van terbatuk, mula-mula pelan. Makin lama batuknya makin keras. Aku khawatir, pasti terjadi pendarahan. Sambil mengawasi dengan was-was, aku menyiapkan obat-obat sesuai instruksi dokter bila terjadi sesuatu. Hujan bertambah deras. Aku berdiri untuk mengganti infus. Satu hempasan keras membuat aku terdorong ke tengah lorong, menabrak seorang pramugari. Para penumpang diminta untuk mengenakan sabuk pengaman. Pesawat tergoncang. Banyak penumpang muntah-muntah. Pramugari sibuk membantu ke sana ke sini. Aku terus mengawasi Ibu Van yang bertambah sulit bernapas. Aku berusaha tenang, agar suami Ibu Van tidak kacau. Yang bisa kulakukan adalah memohon kepada Tuhan, "Tuhan, kalau boleh saya menawar, jangan biarkan Ibu Van meninggal saat ini." Seiring dengan selesainya doaku, pesawat terasa menurun dengan cepat bagai ditarik ke bumi. Aku berpegang erat pada kursi dan tangan Ibu Van. Hatiku rasanya habis sudah. Aku mengira pesawat akan jatuh. Penumpang menjerit ketakutan, ada yang menangis, ada yang berdoa. Seorang bapak berumur 70 tahun nyaris pingsan.

Pesawat kembali normal. Pramugari sibuk, sementara aku sibuk dengan infus Ibu Van yang macet. Kudengar napas memburu, sekejap aku tersentak, "Aduh ... Ibu Van ... jangan sekarang. Sebentar lagi kita sampai. Anak-anak telah me-nunggu." Aku sungguh gelisah. Napasnya semakin cepat, pendek, berhenti sekitar dua tiga detik, kembali bernapas lagi, dalam dan pelan, pelan sekali. Nadinya kecil, sukar diraba. Tak terasa bajuku basah. Segera kumasukkan obat sesuai anjuran dokter lewat infus. Lima belas menit suasana kacau ini sungguh terasa lama sekali.

Hujan mulai reda, badai tak terasa lagi. Terdengar suara pilot mohon maaf atas penerbangan yang tidak menyenangkan karena cuaca buruk. Kemudian terdengar suara lagi, "Sepuluh menit lagi pesawat akan mendarat bila cuaca membaik. Sekarang Kupang tertutup awan tebal, badai dan hujan deras mengguyur bandara. Kita akan berputar-putar selama tiga puluh menit di atas Kupang dan sekitarnya, menanti cuaca membaik."

Mendengar pemberitahuan itu penumpang menjadi gelisah. Beberapa penumpang menangis. Pramugari sibuk menenangkan penumpang. Aku merasa semakin kecil. Untung sekali Ibu Van tetap tenang, tidak gelisah, walaupun napasnya tidak normal. Aku sungguh-sungguh cemas. Selama tiga puluh menit aku merasa sungguh dicekam oleh ketidakpastian.

Pesawat terasa mulai menurun pelan-pelan. Semua penumpang tampak sangat tegang. Pesawat sepertinya turun dengan cepat, tetapi segera naik lagi. Tak tahu apa yang terjadi. Dalam suasana tegang itu diinformasikan, bila gagal melakukan pendaratan lagi, pesawat akan diterbangkan kembali ke Maumere. Hatiku bertambah kacau dan bingung. "Tuhan ... selamatkan kami... Tuhan selamatkan kami," kata-kata yang terus-menerus keluar dari batinku.

Tiba-tiba pesawat turun lagi. Dalam beberapa menit kurasakan sentuhan roda pesawat pada landasan. Akhirnya, pesawat berhenti. Gemuruh sorak penumpang diiringi tepuk tangan meriah. "Puji Tuhan, terima kasih Tuhan ... Engkau Mahabaik, Engkau mendengarkan jeritan kami!"

Segera kusaksikan pemandangan yang sangat mengharukan. Kedua anak Ibu Van tersedu-sedu, sementara Ibu Van hanya membelai-belai rambut mereka. Kulihat air matinya menetes. Suatu siksaan berat aku rasakan. Karena kondisinya, Ibu Van tidak mampu mencium atau mendekap anak yang sangat dikasihinya. Segera Ibu Van memandangiku dan meminta kedua anaknya untuk menyalamiku. Diciumnya tanganku oleh kedua anak itu. Mataku berkaca-kaca. "Tanpa Suster ini, kamu mungkin tidak bisa berjumpa lagi dengan ibumu," kata suaminya tersendat-sendat menahan gejolak hatinya.

Rasanya sirna semua beban yang begitu menekan selama perjalanan, menyaksikan adegan itu. Kurasakan betapa semakin bermakna hidupku bisa membantu mewujudkan kebahagiaan, meski sekecil apa pun harapan kebahagiaan itu.

Diambil dari buku: Sayur Lodeh Kehidupan: Teman dalam Harapan



Editor: Sindhunata
Penerbit: Kanisius
Cetakan: 1999

 
Iklan
Iklan

Polling

Menurut Anda bagaimanakah pelayanan di RS Panti Rapih?
 
Iklan

Katering Gizi

Iklan

Rumah Sakit Panti Rapih, Rumah Sakit Yogyakarta, Rumah Sakit Jogja, Rumah Sakit Terbaik Yogyakarta, Rumah Sakit Unggulan Indonesia, Rumah Sakit Terbaik Indonesia, Peringkat Rumah Sakit Terbaik Yogyakarta, Peringkat Rumah Sakit Terbaik Indonesia, Rumah Sakit Panti Rapih, Sahabat Untuk Hidup Sehat, Bedah Urologi terbaik Indonesia, Bedah Urologi Terbaik Jawa, Bedah Urologi Terbaik Yogyakarta dan Jawa Tengah, Bedah Tulang Ortopedi terbaik Indonesia, Bedah Tulang Ortopedi Terbaik Jawa, Bedah Tulang Ortopedi Terbaik Yogyakarta dan Jawa Tengah, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik Yogyakarta, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik Indonesia, Rumah Sakit Murah, Rumah Sakit dengan Pelayanan Terbaik, Rumah Sakit Yogyakarta Pelayanan Terbaik, Rumah Sakit Keluarga, Rumah Sakit Tipe A, Rumah Sakit Terakreditasi A, Rumah Sakit Unggulan Masyarakat, Rumah Sakit Unggulan Masyarakat Indonesia, Rumah Sakit Unggulan Yogyakarta, Onder de Bogen