Info Libur Lebaran 2017

Ortopedik & Traumatologi

RS Panti Rapih melayani penggantian sendi lutut dan pinggul, pelurusan tulang belakang, serta peyambungan tulang.

Urologi

Unit bedah urologi melayani tembak batu ginjal dengan ESWL dan penanganan batu ginjal dengan metode PCNL.

Kesehatan Ibu dan Anak

Pelayanan yang bertujuan untuk mengoptimalkan luaran ibu dan bayi dengan pengamatan kehamilan berkelanjutan untuk mencapai “Healthy Mother and Healthy Baby”

testing testing
Si bujang dalam pasungan

Saat itu aku bekerja sebagai perawat bidan di daerah UPT (Unit Pemukiman Transmigrasi) di Sumatra Selatan. Dalam melayani orang sakit, aku tidak hanya bekerja di poliklinik saja. Aku sering masuk ke daerah transmingrasi. Jalan yang kulalui menuju daerah transmigrasi tersebut jelek dan becek. Perjalanan itu aku tempuh dengan menggunakan sepeda motor. Kadang aku pun harus melewati hutan. Kalau tempat yang kutuju itu sulit dan "menakutkan", aku minta orang untuk menemaniku. Di tengah perjalanan, aku sering menjumpai monyet atau ular.

Di daerah itu, aku banyak menemukan kasus kesehatan. Dari sekian kasus yang ada, hatiku tergerak untuk memperhatikan anak cacat dan orang yang dianggap gila. Kulihat tak ada pihak yang memberi perhatian kepada mereka. Anak yang lahir cacat palatoschisis (bibir sumbing), jarang ada yang memperhatikan. Bisa-bisa mereka itu menjadi rendah diri. Aku tergerak untuk membantunya sejak awal. Demikian juga dengan orang yang dianggap gila, mereka diperlakukan seperti sampah masyarakat. Aku merasa sungguh kasihan dan berusaha membantu sejauh aku mampu.

Pada suatu hari, aku didatangi oleh salah seorang famili pasien. Ia memberitahukan kepadaku bahwa salah satu familinya yang tinggal di kelurahan sebelah memiliki anak yang menderita sakit ingatan. Ia telah dipasung selama 4 tahun. Aku diminta untuk membebaskannya. Mendengar penjelasan itu langsung dalam pikiranku muncul pertanyaan besar: mungkinkah aku bisa membebaskannya? Sepertinya aku tidak diberi kesempatan untuk berpikir, karena orang itu menunggu jawaban kesediaan dariku. Meski aku tidak tahu harus berbuat apa, kukatakan kesediaanku untuk datang dan mencoba membantunya.

Setelah mempersiapkan segala perlengkapan aku berangkat. Sesampai di tempat itu, ternyata seluruh anggota keluarga telah menungguku. Aku diajak duduk dan disuguhi minuman ala kadarnya. Setelah berbincang-bincang sebentar, aku diajak ke tempat pemasungan anaknya, di ruang belakang dekat dapur, sebuah ruangan yang jarang dilewati oleh anggota keluarga. Sesampai di tempat pemasungan, kulihat pemandangan yang sangat menyedihkan. Seorang anak muda dipasung. Ia sedang asyik makan nasi campur kotoran. Kondisinya sungguh memprihatinkan. Bau tidak enak menyengat dari tubuhnya. Rambutnya kumal. Mata merah. Gigi sangat kotor. Kuku-kukunya panjang dan kotor. Seluruh kulit penuh dengan kotoran. Kedua kaki yang dipasung mengecil.

Sebenarnya risih juga. Akan tetapi, kucoba kutunjukkan bahwa aku tidak merasa risih. Kudekati si bujang. Kucoba untuk kuajak bicara.

"Siapa namamu?" tanyaku.

Jawabnya, "Juhim."

"Berapa umurmu," tanyaku lagi.

Jawabnya, "Sawah lor kono" (Sawah di sebelah utara desa).

"Kamu sedang makan apa?"

Jawabnya, "Sawahku didol" (Sawahku dijual).

"Kamu bisa tidur?"

Jawabnya, "Wedusku wis entek" (Kambingnya sudah habis).

Dari omongan itu aku merasa ada sesuatu yang menjadikannya stress dan gila. Kemudian aku mengajak keluarganya untuk berbincang-bincang. Dari orang tua dan keluarganya, kudapati keterangan bahwa Juhim tidak tamat SD. Kerjanya membantu orang tua di sawah. Pada suatu hari, karena keluarga mengalami kesulitan ekonomi, sawah yang selama itu digarap oleh Juhim dijual tanpa sepengetahuannya. Ternak piaraannya pun kemudian terpaksa dijual. Setelah tahu bahwa sawah garapannya dan ternaknya dijual, Juhim langsung stres. Perilakunya berubah. Pada suatu hari ia mengamuk ayahnya, sehingga ayahnya kehilangan satu matanya. Derita yang dialami ayahnya ternyata tidak menyadarkan Juhim. Tingkah lakunya justru semakin brutal. Ia mulai mengacau lingkungan dan masyarakat. Untuk mengurangi kekacauan yang ditimbulkannya, maka Juhim dipasung.

Apa yang harus aku lakukan untuk membebaskan Juhim dan keluarganya dari penderitaan itu? Pertanyaan yang tak mudah aku jawab. Antara keinginan untuk membantu dan jalan keluar yang belum kutemukan menguasai pikiranku. Akhirnya, kutemukan jalan keluar, meski aku sendiri tidak tahu berhasil atau tidak. Untuk ini, aku harus melibatkan banyak pihak. Ini juga kulakukan untuk menghindari penilaian bahwa aku telah mencampuri wilayah pelayanan kesehatan pihak lain.

Kudatangi bapak RT, lurah, dokter Puskesmas untuk melaporkan kasus tersebut. Aku pun minta izin untuk membantu membebaskan Juhim. Mereka dengan senang hati akan membantu aku. Segera aku melapor ke Kepala Dinas Kesehatan Tingkat II dan Dinas Sosial Kabupaten. Dari situ aku langsung mencari cara untuk memasukkan Juhim ke RS Jiwa dengan status pasien tidak mampu. Setelah diberi tahu syarat-syarat-nya, aku segera mencari syarat-syarat yang dibutuhkan. Setelah urusan administrasi selesai, aku tinggal membawa Juhim ke Rumah Sakit Jiwa.

Bagaimana aku bisa melakukan ini? Jarak rumah Juhim ke RSJ di Palembang membutuhkan waktu 10 jam perjalanan. Dengan mobil apa? Kalau di tengah jalan mengamuk? Masalah-masalah ini kurasa jauh lebih berat daripada yang telah aku tempuh. Akan tetapi, aku harus terus melangkah, karena jalan sudah terbuka lebar. Tak henti-henti kumohon kepada Tuhan untuk memberi jalan keluar.

Untung sekali ada orang yang sangat baik yang rela meminjamkan mobilnya. Setelah mendapat mobil, untuk menghindari kalau dia mengamuk, aku datang ke polsek setempat untuk pinjam borgol. Meski prosedur agak berbelit, akhirnya aku berhasil meminjam borgol.

Bagai sebuah drama, pagi itu aku membawa Juhim ke RSJ, dengan disaksikan oleh tokoh-tokoh penting daerah itu. Sebelum berangkat aku mengajak mereka semua untuk berdoa dengan cara masing-masing, agar semua usaha berhasil dengan baik. Kemudian adegan perpisahan bak orang besar saja. Setelah semua siap, Juhim kumasukkan ke dalam mobil dan langsung kuberi suntikan tidur dosis tinggi sesuai dengan program dokter. Selama perjalanan ia tenang. Akan tetapi, ya ampun ... ia buang air besar. Bisa dibayangkan apa jadinya. Terpaksa kami mencari sebuah sungai. Di sungai itu kubersihkan dia, sementara yang lain membersihkan mobil. Aku bangga teman-teman yang ikut mengantar mau terlibat mengurusi masalah itu.

Sesampai di RSJ, kami diterima sesuai dengan prosedur. Setelah itu bila tidak ada halangan, aku menemani keluarganya menengok Juhim. Dari kunjungan yang satu ke berikutnya, kulihat keadaan Juhim semakin membaik. Secara pelan-pelan ia bisa mengenal lingkungan sekitarnya dengan baik. Ia mulai mengenal kembali keluarganya. Bahkan, suatu ketika saat ditengok, ia menanyakan keponakannya.

Melihat perkembangan yang begitu baik dan pesat itu, setelah dirawat tiga bulan, Juhim diperbolehkan pulang dan diberi obat-obatan untuk jangka waktu satu bulan. Ia dinyatakan sembuh. Dan dianjurkan untuk kontrol ke rumah sakit lagi.

Aku sungguh ikut bahagia melihat perkembangan Juhim. Sekembali dari RSJ, ia mulai biasa lagi seperti dulu. Ia bisa diajak bercanda, bahkan sudah dapat mengasuh kemenakannya. Ia mulai membantu ayahnya lagi bekerja di sawah. Aku begitu kagum kepada ayahnya ketika Juhim bertanya perihal mata ayahnya. Kulihat ayahnya begitu terharu mendengar pertanyaan polos dari Juhim. Jawab ayahnya, "Mataku sakit dan tidak dapat diobati lagi, tetapi tidak apa-apa. Aku masih dapat melihat dengan satu mata." Sungguh jawaban yang kuanggap sangat mulia.

Melihat perkembangan Juhim yang begitu bagus, aku masih terdorong untuk membantu dia mengurus dirinya dengan baik. Kuusahakan dan kuberikan kepadanya sabun, sikat, odol, sisir, dan beberapa pakaian bekas. Kuajari dia membersihkan lingkungan, mulai dari melipat selimut sampai menyapu. Lalu sebagai kegiatan sehari-hari, karena kebetulan ada donatur yang baik, kubelikan untuk dia sepasang kambing.

Setelah dua tahun, kambing yang dipelihara Juhim telah menjadi 15 ekor. Aku kemudian dipersilakan untuk mengambil kambingku. Supaya ia tidak kecewa, kuambil sepasang kambing yang pernah kuberikan. Ketiga belas ekor sisanya, kujelaskan sebagai miliknya. Ia kelihatan sangat bahagia, sinar matanya berbinar-binar. Kemudian, ia menjual 3 ekor kambing dan uangnya dibelikan sepeda. Kini ia kembali mempunyai sepeda.

Dengan sepedanya itu ia sering datang ke tempatku sekadar membawa beberapa kilo ketan, kelapa, jagung, dan sayuran. Itu semua kurasakan sebagai ungkapan terima kasih yang sangat tulus dan dalam. Aku sungguh terharu. Terima kasih Tuhan, aku telah Kaupakai untuk membantu sesamaku merasakan kebaikan-Mu. Menurutku, bila manusia mampu mengungkapkan terima kasih secara tulus, dia adalah manusia yang waras dan berhati. Dan bagiku, tugas dan profesi perawat adalah membantu sesama untuk mampu melihat kebaikan Tuhan dan mampu berterima kasih.

Diambil dari buku: Sayur Lodeh Kehidupan: Teman dalam Harapan



Editor: Sindhunata
Penerbit: Kanisius
Cetakan: 1999

 

Informasi Dokter

TELAH BERGABUNG
DI RS PANTI RAPIH

dr. Suryono Yudha Patria, P.Hd., Sp.AK

Spesialis Anak Konsultan Endokrinologi Anak

Jadwal Praktek

Senin pukul 19:00 - 20:00

Kamis pukul 19:00 - 20:00

Ruang 301 - Lantai 3 Rawat Jalan

Iklan

Polling

Menurut Anda bagaimanakah pelayanan di RS Panti Rapih?
 
Iklan

Katering Gizi

Iklan

Rumah Sakit Panti Rapih, Rumah Sakit Yogyakarta, Rumah Sakit Jogja, Rumah Sakit Terbaik Yogyakarta, Rumah Sakit Unggulan Indonesia, Rumah Sakit Terbaik Indonesia, Peringkat Rumah Sakit Terbaik Yogyakarta, Peringkat Rumah Sakit Terbaik Indonesia, Rumah Sakit Panti Rapih, Sahabat Untuk Hidup Sehat, Bedah Urologi terbaik Indonesia, Bedah Urologi Terbaik Jawa, Bedah Urologi Terbaik Yogyakarta dan Jawa Tengah, Bedah Tulang Ortopedi terbaik Indonesia, Bedah Tulang Ortopedi Terbaik Jawa, Bedah Tulang Ortopedi Terbaik Yogyakarta dan Jawa Tengah, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik Yogyakarta, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik Indonesia, Rumah Sakit Murah, Rumah Sakit dengan Pelayanan Terbaik, Rumah Sakit Yogyakarta Pelayanan Terbaik, Rumah Sakit Keluarga, Rumah Sakit Tipe A, Rumah Sakit Terakreditasi A, Rumah Sakit Unggulan Masyarakat, Rumah Sakit Unggulan Masyarakat Indonesia, Rumah Sakit Unggulan Yogyakarta, Onder de Bogen

www.pantirapih.or.id